SMS/WA :0812 9597 095 (Tsabita Boneka) 8.00-17.00 WIB
atau kirim pertanyaan anda melalui inbox ke FP Tsabita Boneka&Puppet

Selasa, 18 Oktober 2016

Harga by inbox?

Apakah anda crafter dan galau ketika hendak memutuskan menuliskan harga atau tidak pada foto anda di sosial media seperti facebook atau instagram? apa sih akibatnya kalau kita tidak mencantumkan harga?

Beberapa waktu lalu saya banyak membaca beberapa status di sosmed yang mencela online shop yang tidak mencantumkan harga produknya (di sosmed tempat dia memajangl produknya pastinya), sehingga muncul istilah harga by inbox/pm dan konflik ini ikut merambah ke dunia craft yang biasanya kebanyakan produknya terbatas dan sebagian malah customize. Dari beberapa pendapat pro kontra di sosmed mengenai "harga by inbox" ada beberapa hal yg bisa kita ambil pelajaran.

1. Menyadari fungsi sosial media sesungguhnya


Yang perlu kita sadari sosial media khususnya facebook fungsinya adalah menjalin pertemanan itu yang utama, bukan selling media, jadi di sosial media lebih diutamakan branding (memperkenalkan ke teman-teman di fb bahwa kita membuat "ini lho" dan brand kita "ini" jadi bukan jualan langsung. Karena itu ada etika dalam

berjualan di sosmed, karena mereka adalah teman bukan bidikan/target pasar utama, adapun jika ada teman atau 'temannya teman' yang tertarik dengan produk kita tentu itu adalah karena efek saming positif dari pertemanan, atau secara tidak langsung kita membuat network bersama teman-teman kita di sosmed, karena tujuan utama adalah mencari teman bukan mencari 'korban' tentu bebas atau sah-sah saja kita tidak mencantumkan harga. Adapun yg mau mencantumkan harga ya tidak dilarang hehehe... karena sosmed bukan market place. Kalau market place seperti tokopedia, bukalapak, qlapa, dll.. jelas fungsinya sebagai tempat berjualan alias pasar online yang salah satu syaratnya adalah mencantumkan harga....clear kan?
Jadi apa dong yg harus kita lakukan di sosmed? yang utama adalah orang tahu siapa anda, orang tahu anda menjua/membuat apa, Orang percaya pada anda karena anda mempunyai nilai positif, orang suka dengan apa yang anda tulis dan apa yg anda bagikan di sosmed.


2. Lebih personal berinteraksi dengan calon konsumen 


Dengan bertanya jawab melaui inbox/japri/chat, biasanya ada interaksi personal yang lebih intens daripada sekedar melihat gambar dan harga. dan biasanya lebih mengesankan keakraban dan keramahan penjual.
Inbox on line shop, lebih bersifat seperti SPG toko real. Misalnya anda melihat tas yang bagus, , tapi biasanya pasti ada pertimbangan di fikiran kita cenderung realistis apakah butuh atau tidak, sesuai budget kita atau tidak...jika mbak SPG dengan ramah menyapa dan menerangkan dengan baik kelebihan tas, dan keuntungan yg bisa didapat jika membeli tas itu, maka biasanya yang tadinya tidak tertarik-tertarik amat jadi mulai tergiur dan mulai membayangkan kita memakai tas itu di acara apa...hihihi ...kita akan memulai memutuskan dalam hati untuk membelinya, kecuali kita memang betul-betul tidak berminat sejak awal.

Mirip seperti kasus diatas inbox/japri/chat  merupakan sentuhan personal penjual kepada pembeli. Minimal pembeli akan menyapa, lalu ada obrolan. Dalam psikologi komsumen, dilayanin satu-satu pasti beda rasanya dengan dicuekin. tahukah anda mayoritas ( sekitar 83% kata ahlipenjualan) orang membeli produk karena suka dengan penjualnya , karena itulah perlu interaksi personal.

3.Bisa menjelaskan secara detil kelebihan barang yg dijual dibanding produk kompetitor yg mungkin lebih murah.

Biasanya dengan tidak mencantumkan harga diterapkan untuk produk2 yg customize atau high price dan limited.  maka akan orang akan penasaran dan  tertarik karena produk tidak pasaran, yg serius /sangat tertarik tentu bertanya via inbox/japri/chat, sebagian besar biasanya akan terjadi transaksi karena terjawab penasarannya (berdasar pengalaman)
karena yg ditonjolkan kualitas produknya, jadi tidak bisa cuma dilihat dari foto saja. butuh pemaparan lebih lanjut secara personal. kenapa tidak dijelaskan di caption foto? berdasar pengalaman 90% calon pembeli terutama orang Indonesia itu malas baca keterangan panjang2 hehehe, mending diajak ngobrol namanya juga sosmed..... ^_^
Tentu beda pendekatan dengan produk-produk massal yang  murmer atau diskon nyungsep, kalau perlu dibold, digedein hurufnya, dikasih tinta merah di fotonya. karena yg ditonjolin memang diskonnya....hehehe

4. Mengangkat postingan produk craft walau sudah lama diposting (terutama di facebook dan instagram)

Dengan tidak dicantumkan harga akan memancing orang menanyakan harga di komentar, -maka otomatis postingan kita akan naik lagi di newsfeed teman-teman kita apabial harga sudah tertulis tentu orang tidak tertarik lagi untuk berkomentar,interaksi berupa komentar tentu juga sangat dibutuhkan jika kita ingin mengenalkan karya kita, jadi yang tadinya sudah lupa jadi inget lagi, pembeli saya sebagian besar bukan berteman langsung dengan saya di sosmed, tapi kebanyakan adalah hasil rekomendasi teman-temannya yang sudah berinteraksi dengan saya .

5. Menghargai reseller kita (jika anda punya reseller)

Jika kita mempunyai reseller yg membantu pemasaran produk kita terutama yg tetap memasang/menghargai brand kita  , memasang harga akan seperti pernyataan perang terbuka, karena ada beberapa reseller yg merasa terancam pemasarannya kalau kita memasang harga khawatir orang tidak mau membeli ke reseller tapi langsung ke kita produsennya. Dengan tidak mencantumkan harga orang senang membantu memasarkan harga bahkan mungkin tidak mengganti brand kita menjadi brand reseller karena merasa nyaman dan tidak terancam.

Mengenai apakah melanggar syariat menurut islam atau tidak (khususnya muslim) itu tergantung apa yg kita jual (bukan barang haram) dan bagaimana cara kita berinteraksi dengan calon konsumen kita (etika), apakah kita bicara menyakitkan hati atau tidak, menipu atau tidak itu baru bisa dinilai setelah terjadi interaksi dan transaksi.
Perlu diketahui Rasulullah dalam berdagang juga tidak mencantumkan harga secara tertulis tapi melalui tanya jawab alias interaksi dengan pembelinya, seperti layaknya jual beli di pasar2 tradisional. Silahkan baca sejarah beliau.
Jadi mencantumkan harga atau tidak di sosmed itu hak anda  ^_^


10 komentar:

Inas Basymeleh mengatakan...

MasyaAllah keren tulisannya mbaa.. terjawab lengkap sudah hihihi *jadi kepikir mau tulis harga by inbox juga kalau jualan ntar ^^'

tsabita boneka mengatakan...

Trimakasih sudah mampir dan membaca mb Inas 😊

Dianari Lauza mengatakan...

makasih mba say,,,

Henny mengatakan...

Cakep banget tulisannya bu periiii....
Ak ngintilin di belakang yaa... Hihihiii... ������

ndandut mengatakan...

Aiiiihh...cakep amat postingannya :)
Setau sy banyak yg jadi males liat price by pm krn banyak olshop yg dipegang sama dedek2 labil, yang kalo orang cuma nanya harga tp ga jd beli malah marah2. Bilang php lah, bilang kere lah. Padahal tanya harga yg emang ga ada di caption :)))

tsabita boneka mengatakan...

Iya teh Linda, gara2 beberapa olshop bersikap seperti itu org menganggap semua OS begitu, padahal tulisan ini hanya membahas dr sisi crafter yg biasanya buatannya sangat terbatas dan customize, dan bahasannya ketika jualan di sosmed saja yg fungsinya sebagai media bersosial yg utama. 😊

susi yanti mengatakan...

Betul skli tuh mba? Kren tulisannya... :)

tsabita boneka mengatakan...

Sama2 mb Dianari 😊

tsabita boneka mengatakan...

Trimakasih teteh Henny 😊

tsabita boneka mengatakan...

Trimakasih mb Susi 😊

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...